SMA Negeri 1 Omben Kab. Sampang

Aturan Sekolah Tak Lagi Berarti

Oleh: MOH. QOMARUDDIN, S.Pd*

Setiap pagi hingga siang, dari Senin sampai Jumat merupakan hari-hari efektif bagi kami yang berada di lingkungan sekolah — guru, staf, dan murid. Hari-hari itu seharusnya menjadi waktu belajar bagi murid dan waktu mengajar bagi guru. Karena itu, semua pihak diharapkan datang tepat waktu sesuai aturan sekolah yang telah disepakati, yaitu masuk pukul 07.00.

Sejak awal, kami selaku guru sudah menyampaikan informasi tersebut. Aturan ini telah disetujui oleh kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru, perwakilan siswa, serta komite sekolah. Namun kenyataannya, aturan itu kini hanya menjadi tulisan di atas kertas — sekadar kesepakatan tanpa makna.

Kami, para guru, sering sudah berada di sekolah sejak pukul 06.30 untuk menunggu siswa di gerbang. Saat bel tanda masuk berbunyi, suasana sekolah masih sepi. Banyak siswa belum datang. Bahkan sampai pukul 07.30 hingga 08.00, masih ada yang datang dengan santai tanpa rasa bersalah, seolah tidak terjadi pelanggaran apa pun. Ketika ditanya alasan keterlambatan, jawabannya hanya singkat: “Kesiangan.”

Kami para guru berangkat lebih awal untuk menyambut kedatangan siswa dan bisa jadi motivasi untuk datang tepat waktu. Tapi kenyataannya, meski sudah diingatkan, mereka tetap datang terlambat. Masuk kelas tanpa rasa bersalah, bahkan ada yang tertawa seakan hal itu bukan masalah. Mereka tidak peduli pada teguran guru, tidak memperhatikan pelajaran, dan tidak menghargai proses belajar.

Kebiasaan ini berawal dari pengalaman belajar yang tidak bermakna, tidak paham tugas dan tanggung jawabnya sebagai pelajar. Tantangan paling berat bagi mereka waktunya tersita dengan bermain game dan menggunakan sosial media tanpa kontrol. Sehingga sampai di sekolah mereka terlambat dan ngantuk saat pelajaran berlangsung serta ada yang tidur di dalam kelas saat pelajaran berlangsung.

Perilaku seperti ini sudah sering kami tangani, tapi hasilnya nihil. Esok harinya, keadaan tetap sama. Ada yang datang terlambat, bahkan tidak masuk sekolah tanpa alasan jelas — biasanya hanya karena ketiduran.

Aturan memakai atribut lengkap saat upacara pun mulai diabaikan, begitu pula dengan larangan menyontek saat ujian. Nilai ulangan dan tugas pun tidak lagi dianggap penting. Raport diambil atau tidak, bagi sebagian siswa tampaknya bukan hal besar.

Aturan sekolah yang seharusnya menjadi pedoman justru kehilangan maknanya. Di mana letak tanggung jawab dan disiplin yang dulu dijunjung tinggi? Sudah saatnya semua pihak kembali menegakkan aturan, bukan sekadar menulis dan membacanya, tetapi menjadikannya pedoman hidup di sekolah — agar siswa tumbuh dengan rasa tanggung jawab, disiplin, dan saling menghargai.

*Penulis adalah Guru BK di SMAN 1 Omben

Tinggalkan komentar