Dari Sawah, Ladang dan Tanêyan Lanjhâng.
Oleh: Hidayat Raharja
Bilal salah seorang murid memiliki kemauan belajar yang sangat tinggi. Ia selalu mebukuti setiap lomba untuk siswa SMA yang diadakan di Kabupaten Sampang. Namun ada satu pengalaman menarik ketika mengajak Bilal untuk ikut lomba cipta puisi FLS3N (Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional) di tahun 2025. Latihan menulis puisi dilakukan dengan mengambil tema-tema keseharian yang dialami Bilal. Ia menggunakan diksi benda-benda di lingkungan sekitar rumah untuk memasuki imajinasi yang lebih luas. Di lomba tersebut dengan puisi berjudul “Sandur,” Bilal mewakili kabupaten Sampang dan terpilih sebagai 5 finalis Lomba Cipta Puisi se Jawa Timur.
Ia belajar mulai dari membaca puisi-puisi penyair yang sudah mapan. Melihat bentuk, menikmati bunyi dan memahami maknanya. Upaya dilakukan untuk mengenal bagaimana puisi diciptakan, dari mana inspirasi didapatkan dan bagaimana menyusun pengalaman-pemgalaman autentik menjadi sebuah imajinasi dalam bangunan puisi.
Awalnya ia kesulitan untuk bisa memahami dan tak mampu menjangkau imajinasi yang diciptakan penyair. Ia hanya mengerti sebaris dua baris puisi yang dibaca. Namun saat bertemu dengan puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo, ia mulai paham mengenai diksi dan makna puisi yang dituliskan.
Setelah memahami puisi yang dibaca, maka mulailah Bilal meniru puisi-puisi yang dibacanya dengan bahasanya sendiri. Tentu tidak pas, tapi sebagai awal menulis itu diakukan untuk melatih kelenturan dalam berbahasa.
Saya memulai mengajak untuk mempuisikan kegiatan sehari-hari. Karena bagi saya lingkungan kehidupan sosial di rumah Bilal masih sangat natural, asri, dan guyub. Hamparan padi yang luas, desir angin menerpa semak-semak dan pepohonan. Orang-orang kampung berangkat kerja ke sawah dan ibu-ibu pergi ke pasar desa. Pemandangan menarik dan rutin setiap hari ditemui di antara kesibukan orang yang tergesa-gesa melakoni kehidupan, mereka masih sempat bertegur salam dan sapa.
Bilal menuliskan tentang sawah hijau membentang di desanya dan matahari yang menerangi sepanjang siang dalam puisi berikut;
SAWAH DAN MATAHARI
Sawah-sawah membentang adalah tubuhku
Yang hijau oleh harapan dan masa depan
Di batang-batang padi yang kian menguning
Adalah matahari
Mata waktu yang selalu menjagaku
Dari malam dan kegelapan
20 Juni 2025
Bilal mengimajinasikan sawah sebagai bentangan tubuh dipenuhi hijau harapan tentang masa depan. Harapan yang diumpamakan sebagai bulir-bulir padi menguning. Sementara Matahari dibayangkannya sebagai mata waktu mengintai sepanjang hari menjaga dari malam dan kegelapan.
Di puisi yang lain, Ia menuliskan tentang kesabaran petani tembakau dengan diksi jantung, sawah, senyuman, cangkul, tangis bumi, secangkir kopi pahit, doa, dan semesta bertaburan dalam bangunan puisi yang membangun luasnya imajinasi tentang petani tembakau.
Harapan-harapannya merambat sepanjang usia, doa-doa tumbuh di dada semesta. Doa yang menumbuhkan harapan di antara ayunan cangkul mengolah tanah seperti mengukir harapan di bumi yang tak pasti. Tetapi ketabahan petani adalah simbol dari sebuah kekuatan untuk bertahan.
WAKTU MERAMBAT DI JANTUNGKU
Waktu merambat dari jantungku di sepanjang pembuluh usia
Asap tembakau menggantung di langit abu abu
Petani menapak jalan sawah yang retak
Dengan senyuman sabar meski tubuhnya remuk
Jembatan bambu bergoyang seakan berkata dirinya rapuh
Langkah kaki memikul seember harapan masih setia menempuh
Cangkul menari di atas mimpi yang tak pasti
Mengukir harapan di sela tangis bumi yang tak henti
Di dalam cangkir kayu tergenang penawar dahaga jiwa
Merajut energi melangkahi segalanya
Secangkir kopi pahit, sajak halus menggelitik permukaannya
Adalah doa yang tumbuh di dada semesta
Senyuman di bibir yang renta
Melukis kisah di daun tembakau yang kering dan sunyi
Tapi selama senyuman masih menyala
Perjuangan petani takkan pernah sirna
21 Juni 2025
Lebih jauh Bilal menuliskan tentang jalan setapak menuju sawah, jalan menikung ke dalam hatinya. Ia banyak berbicara tentang kehidupan sosial petani, anak-anak bermain lumpur di antara petani menunggu tanaman padi dari serbuan burung. Ia menggambarkan orang-orangan sawah terbuat dari jerami sebagai memedi burung pemakan padi.
Gambaran alam pedesaan yang masih karib dan selalu menimbulkan kerinduan bagi yang menginginkan hidup tenteram dan damai. Kehidupan daerah agraris semakin terdesak oleh perkembangan kemajuan pembangunan yang mentereng, terpisah dari lingkungan sosialnya. Simak pada puisi Bilal berikut;
JALAN SEPANJANG PEMATANG SAWAH
Jalan sepanjang pematang sawah seperti menuju ke hatiku
Disertai jejak kaki kecil di atas lumpur kenangan
Bangunkan hati yang lama tidur oleh keras suara kincir angin
Batang padi meliuk memanggil-manggil mereka di kejauhan
Anak anak bermain jaranan pappa menjadi lelaki gagah
Mengejar burung-burung yang menyerbu ladang dan sawah
Orang-orangan sawah berangka bambu bertubuh jerami
Menjaga sunyi di bawah mentari menunggu kuningnya padi
Rumah rumah menghadap selatan memandang laut dan kesetiaan
Suara ombak membawa kabar langit yang tak berujung
Membawa hati berlayar menuju pesisir terakhir
Tempat kau dan aku meletakkan bakau duka dan lumpur kecewa
Dari kejauhan rindu melenguh di pagi dan senja hari
Menatap langit dan awan, matahari merah membakar sore
Bayang-bayang memanjang ke timur pada suatu tempat di sudut bumi
Menyimpan cerita sunyi yang tak dapat ku ulangi
Apa yang ditemukan Bilal di ladang tembakau. Ia menemukan lelaki yang menumbuhkan mimpi-mimpinya. Di daun tembakau yang kerap disebut sebagai daun emas karena memberikan keuntungan yang berlipat jika panen berhasil. Ia gambarkan lelaki itu bergelut dengan terik matahari menanam dan menumbuhkan harapan di ladang-ladang kering yang disiraminya saban hari. Ia tuliskan mimpinya dalam puisi beikut;
Mimpi Yang Tumbuh di Ladang
Moh Bilaluddin
mentari menyinari tanah
ayah mengikuti pematang sawah
cangkul menari di ladang harapan
angin sunyi membisikan merdu suara layangan
pohon bambu, jiwa yang letih
masadepan di daun tembakau
di punggung bumi tanpa tepi
kaki renta, kering tanah harap
membekas luka gores batang tembakau
melebar daun jiwa
terik mentari,
ladang hijau dan sunyi
bersinar biru langit
membakar mahkota diri
senja tubuh remuk
senyum bibir di daun mulai redup
bayang kaki mengiringi pulang matahari
menyimpan kisah lelaki di ladang tembakau
21/6/2025
Apa rindu? Bukan hanya sekedar ingin bertemu tetapi sebuah penantian panjang yang tidak pernah tersampaikan. Begitu Bilal mengungkapkan rindu kadang seperti sunyi hati, tak terkatakan. Namun di kala lain seperti cerita awan kepada langit jatuh sebagai hujan membasahi kemarau gersang.
Atau rindu tentang merah senja memantulkan bayangan ke arah timur tampak di mata namun tak tergapai tangan. Sebuah bayangan nyata tapi semu. Ia rindu sunyi bercerita tentang daun-daun jiwa yang layu, karena ia rindu bukan pada kamu tetapi kepada sajak semesta, seperti pada puisi berikut; ,
DILANDA RINDU
Moh bilaluddin
Angin sunyi menyapa hatiku
Membawa berita apa yang tak ada
Lidah laut menjilat rapuhnya jiwa
Mengalirkan gelombang rindu yang tak henti menjelma
Awan bercerita kepada langit
Tentang hujan yang pergi tanpa pamit
Membasahi kering bumi cinta
Menyirami layu bunga rasa
Aku bertanya kepada merah senja
Kemana cahaya penyinar jiwa
Yang memberikan bayang bayang harapan
Tampak dimata tak tergapai tangan
Lembayung sunyi seakan bercerita kepadaku
Tentang daun jiwa yang melayu
Menunggu sunyi sinar mentari
Merindu sajak semesta yang sepi
Ketika bisikan pagi dari langit menyapa mata
Memaksa bibir membengkokkan sudutnya
Namun dingin malam telah membekukan hati
Menolak isi bumi merindu yang tak pasti
27 juni 2025
Bilal sangat terkesan dengan kesenian yang semula tumbuh dan saat ini semakin pupus jadi kenangan. Bagaimana tanggapan Bilal tentang sandur salah satu kesenian tradisional di Madura. Dalam tarian yang diragakan Bilal melihat sandur sebagai ekspresi kesenian tradisi yang semakin teralineasi dari masyarakatnya. Pada hal sandur merupakan salah satu kekayaan budaya tradisi yang patut dibanggakan dan dilestarikan. Di tengah desakan berbagai ekpsresi budaya asing melalui media sosial, Bilal menaruh harapan kepada sandur sebagai cermin budaya bangsa yang di dalamnya bukan hanya tari dan gerak tetapi kekayaan bangsa yang penuh nilai bagi kehidupan bersama. Di dalam Sandur Bilal berharap dari setiap geraknya ia belajar bertahan dan dari setiap syair yang didendangkan banyak ditemukan harapan.
SANDUR
Moh Bilaluddin
Diatas tanah kering
Suara gamelan mengisi pecah bumi
Wanita berkebaya melangkahi sepi bersama tawa
warga bernyanyi di atas ladang bera
Sandur bukan hanya pentas dan suara
Namun cermin jiwa bangsa di ujung senja
Membiaskan cahaya merah dari penghujung desa
Suara pemanggil merambati angin
Sementara kendang harapan menahan pukulan sepi
melodi para nelayan dan petani
Menggapai mimpi anak-anak negeri
Ketika topeng menari
senyum anak kecil mengobati lelah petani
suara tabuan selalu berdendang
jiwa rakyat bergelombang
Nama demi nama menghiasi hening suasana
Kaki melangkah di alas biru
menggenggam merah, harapan
Di tepi halaman tangan-tangan dijulurkan
belang tubuh nelayan, terik mentari
Sandur datang perisai bersama tali
Menahan bencana bumi kering
Mengikat ujung negeri bersama tangan-tangan sunyi
Sandur riwayat sepotong bumi
benang kebersamaan loreng merah Pesa’an
Membawa jeritan rakyat yang tak di dengar
Mencari kunci menuju gerbang harapan
Oh Sandur, yang kaya akan cerita
Kau nyawa yang dititipkan di kembang desa
Dalam tiap gerakmu, kami belajar bertahan
Dalam tiap syairmu, kami temukan harapan
Apa pula yang dikatakannya mengenai Tanêyan Lanjhâng sebagai bentuk pola pemukiman tradisional masyarakat Madura. Pola pemukiman berbentuk memanjang dari arah barat ke timur. Bangunan rumah menghadap selatan sedangkan di ujung barat bangunan Kobhung (langgar) tempat salat atau kegoatan keagamaan dan menerima tamu dari jauh. Sedangkan di bagian selatan menghadap utara adalah dapur dan kandang sapi.
Anak perempuan tertua ada di bagian barat sedangkan anak perempuan kedua dan berikutnya berurutan ke arah bagian timur. Tradisi di masyarakat Madura tradisional suami mengikuti istri. Jadi keluarga yang memiliki anak perempuan menyediakan rumah untuk calon menantunya. Dari lingkungan ini terbangun sistem sosial dan kekerabatan.
Bilal menyusun kisah tanêyan lanjhâng antara deskripsi dan metafora. Bagaimana tiang-tiang rumah bukan hanya sebagai cagak tetapi simbol saksi bisu tentang kerja keras ayah dan doa ibu yang saling menguatkan. Rumah bukan sekadar tempat berteduh tetapi merupakan ikatan batin bagi penghuninya, tempat yang menyatukan mereka dari berbagai perbedaaan. Di langghâr seluruh harapan disandarkan dalam kibar doa untuk mengangkat beban hidup yang berat.
TANêYAN LANJHâNG
Moh Bilaluddin
Diantara sawah dan pohon bambu
Terbentang jejak barisan rumah kayu
Tanian lanjheng, menyimpan kisah
Keluarga yang hidup dalam berkah
Tiang rumah menjadi saksi bisu
Tetesan keringat ayah dan alunan doa ibu
Berjejer rumah, tak hanya tempat berteduh
Namun, serangkai ikatan batin yang amat teguh
Di depan teras itu, mengalir tangis alam dari pancoran
Menggalisungai doa dalam badan
Anak anak berlari tanpa busana
Mengukir langkah menggapai mimpi di sana
Di ujung tanah juang berdiri tegak beranda langit
Panggung sanak saudara melayang bersama asa dan doa
Adalah langghâr, tempat segala harapan bersandar
Mengangkat beban hidup tanpa sayap yang berkibar
Teras yang damai menyimpan suara bisik dan renungan
Tak ada dingding pembatas antara kiri dan kanan
Bersama penghuni senyap, ku ukir pijakan kaki
Menggapai mimpi walau hujan seakan tak henti
Saya tidak bisa memastikan, apakah pengalaman latihan menulis puisi yang dilakukan selama ini akan terus berlanjut? Tetapi apa yang telah dilakukan Bilal penting untuk melatih bahasa dan imajinasi bisa menjadi salah satu cara untuk menyadari batas-batas kemanusiaan. Hidup bukan hanya menulis puisi, namun setidaknya pengalaman belajar menulis puisi menjadi sebuah proses dalam menjalani kehidupan luas dan bermakna. Pengalaman yang mengajari untuk memilih dan menentukan apa yang harus disampaikan sehingga bisa dipahami orang lain.
Bilal sadar bahwa hidup memang bukan hanya puisi, tetapi laksana bermain layang-layang di tanah lapang. Mainan, untuk mengisi waku senggang tanam,namun kadang sebagai adu lomba untuk memperoleh kemenangan. Imajinasi layangan kadang membawa mimpinya ke langit tak bertepi. Ia menggulung doa di kaleng berdebu dengan harapan tak terputus oleh benang lawan. Dari layangan yang kerap dimainkan di musim kemarau Ia banyak belajar bahwa kadang melepaskan lebih indah dari pada menggenggam, seperti pada puisi berikut ini;
LAYANGAN DI UJUNG SENJA
Di sawah yang mulai hening
Angin menggeser tembakau kering
Anak anak berlari menahan kerangka harapan
Disaat benang membuat langit perlahan tegang
Senja mengalirkan jingga
Mewarnai kertas tipis pencatat mimpi
Bergetar, tak gentar akan gelombang
Menghantar mimpi ke langit tak bertepi
Tangan kecil itu
Menggulung doa di kaleng berdebu
Berperang dengan tajam benang
Mengikat asa diatas ladang baru
Dan di ujung benangnya
Ada hati yang belajar
Bahwa melepaskan
Kadang lebih indah daripada menggenggam
2025